PANDUAN PPGD DAN BENCANA

6 02 2013

SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT

TERPADU (SPGDT) DAN BENCANA

 

Panduan PPGD Nasional : PPGD / GELS Kemenkes edisi 2006 :

  1. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat terpadu.
  2. Materi Teknis Medis Standar (ABCDE).
  3. Materi Teknis Medis Khusus.

Pendahuluan

Pelayanan kesehatan gawat-darurat : Hak dan kewajiban semua.

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan : Tanggung-jawab pemerintah dan masyarakat.

Koordinator : Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Badan Penanggulangan dan Bencana Daerah Tingkat I dan II.

SPGDT Sehari-hari dan Bencana : Pra RS, RS dan Antar RS.

Perlunya sistem :

Untuk mengurangi dan menyelamatkan korban bencana, diperlukan cara penanganan yang jelas (efektif, efisien dan terstruktur) untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan kesiap-siagaan dan penanggulangan bencana.

Tujuan :

  1. Didapatkan kesamaan pola pikir / persepsi tentang SPGDT.
  2. Diperoleh kesamaan pola tindak dalam penanganan kasus gawat darurat dalam keadaan sehari-hari maupun bencana.

Safe Community, (SC) :

Keadaan sehat dan aman yang tercipta dari, oleh dan untuk masyarakat. Pemerintah dan teknokrat merupakan fasilitator dan pembina.

SPGDT :

Sistem penanggulangan pasien gawat darurat yang terdiri dari unsur pra RS, RS dan antar RS. Berpedoman pada respon cepat yang menekankan time saving is life and limb saving, yang melibatkan masyarakat awam umum dan khusus, petugas medis, pelayanan ambulans gawat darurat dan komunikasi.

PSC (Public Safety Center) :

Pusat pelayanan yang menjamin kebutuhan masyarakat dalam hal-hal kegawatdaruratan, termasuk pelayanan medis yang dapat dihubungi dalam waktu singkat dan dimanapun berada (gabungan dari AGD 118, SAR/PK 113, Polisi 110). Merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan, yang bertujuan untuk mendapatkan respons cepat (quick response) terutama pelayanan pra RS.

GERAKAN SAFE COMMUNITY

Adalah gerakan agar tercipta masyarakat yang merasa hidup sehat, aman dan sejahtera dimanapun mereka berada yang melibatkan peran aktif himpunan profesi maupun masyarakat (misal : PSC, Poskesdes dll).

Aspek SC :

1. Care :

Kerjasama lintas sektoral terutama non kesehatan dalam menata perilaku dan lingkungan untuk mempersiapkan, mencegah dan melakukan mitigasi dalam menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan, keamanan, dan kesejahteraan.

2. Cure :

Peran utama sektor kesehatan dibantu sektor terkait dalam penanganan keadaan dan kasus-kasus gawat-darurat. Read the rest of this entry »





STANDAR PELAYANAN GAWAT DARURAT

22 01 2013

STANDAR PELAYANAN GAWAT DARURAT

STANDAR 1 :  FALSAFAH DAN TUJUAN

Instalasi / Unit Gawat Darurat dapat memberikan pelayanan gawat darurat kepada masyarakat yang menderita penyakit akut dan mengalami kecelakaan, sesuai dengan standar.

Kriteria :

v  Rumah Sakit menyelenggarakan pelayanan gawat darurat secara terus menerus selama 24 jam, 7 hari dalam seminggu.

v  Ada instalasi / unit Gawat Darurat yang tidak terpisah secara fungsional dari unit-unit pelayanan lainnya di rumah sakit.

v  Ada kebijakan / peraturan / prosedur tertulis tentang pasien yang tidak tergolong akut gawat akan tetapi datang untuk berobat di Instalasi / Unit Gawat Darurat.

v  Adanya evaluasi tentang fungsi instalasi / Unit Gawat Darurat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

v  Penelitian dan pendidikan akan berhubungan dengan fungsi instalasi / Unit Gawat Darurat dan kesehatan masyrakat harus diselenggarakan.

STANDAR 2 :  ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN

Instalasi / Unit Gawat Darurat harus dikelola dan diintegrasikan dengan Instalasi / Unit Lainnya di Rumah Sakit.

Kriteria :

  1. Ada dokter terlatih sebagai kepala Instalasi / Unit Gawat Darurat yang bertanggungjawab atas pelayanan di Instalasi / Unit Gawat Darurat.
  2. Ada Perawat sebagai penganggungjawab pelayanan keperawatan gawat darurat.
  3. Semua tenaga dokter dan keperawatan mampu melakukan teknik pertolongan hidup dasar (Basic Life Support).
  4. Ada program penanggulangan korban massal, bencana (disaster plan) terhadap kejadian di dalam rumah sakit ataupun di luar rumah sakit.
  5. Semua staf / pegawai harus menyadari dan mengetahui kebijakan dan tujuan dari unit.
    Pengertian : Meliputi kesadaran sopan santun, keleluasaan pribadi (privacy), waktu tunggu, bahasa, perbedaan rasial / suku, kepentingan konsultasi dan bantuan sosial serta bantuan keagamaan.
  6. Ada ketentuan tertulis tentang manajemen informasi medis (prosedur) rekam medik.
  7. Semua pasien yang masuk harus melalui Triase. Pengertian : Bila perlu triase dilakukan sebelum indentifikasi.
  8. Triase harus dilakukan oleh dokter atau perawat senior yang berijazah / berpengalaman.
  9. Triase sangat penting untuk penilaian kegawat daruratan pasien dan pemberian pertolongan / terapi sesuai dengan derajat kegawatdaruratan yang dihadapi.
  10. Petugas triase juga bertanggungjawab dalam organisasi dan pengawasan penerimaan pasien dan daerah ruang tunggu.
  11. Rumah Sakit yang hanya dapat memberi pelayanan terbatas pada pasien gawat darurat harus dapat mengatur untuk rujukan ke rumah sakit lainnya.

Kriteria :

  • Ada ketentuan tertulis indikasi tentang pasien yang dirujuk ke rumah sakit lainnya.
  • Ada ketentuan tertulis tentang pendamping pasien yang di transportasi.
  • Pasien dengan kegawatan yang mengancam nyawa harus selalu diobservasi dan dipantau oleh tenaga terampil dan mampu.

Pengertian :

Pemantauan terus dilakukan sewaktu transportasi ke bagian lain dari rumah sakit atau rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lainnya dan pasien harus didampingi oleh tenaga yang terampil dan mampu memberikan pertolongan bila timbul kesulitan. Umumnya pendamping seorang dokter. Read the rest of this entry »





KONSEP DASAR KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

22 01 2013

KONSEP-KONSEP DASAR

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

DEFENISI

Keparawatan gawat darurat adalah pelayanan profesioanal keperawatan yang di berikan pada pasien dengan kebutuhan urgen dan kritis. Namun UGD dan klinik kedaruratan sering di gunakan untuk masalah yang tidak urgen. Yang kemudian filosofi tentang keperawatan gawat darurat menjadi luas, kedaruratan yaitu apapun yang di alami pasien atau keluarga harus di pertimbangkan sebagai Kedaruratan

SISTEM PELAYANAN GAWAT DARURAT

Pelayanan gawat darurat tidak hanya memberikan pelayanan untuk mengatasi kondisi kedaruratan yang di alami pasien tetapi juga memberikan asuhan keperawatan untuk mengatasi kecemasan pasien dan keluarga.

Sistem pelayana bersifat darurat sehingga perawat dan tenaga medis lainnya harus memiliki kemampuan, keterampilan, tehnik serta ilmu pengetahuan yang tinggi dalam memberikan pertolongan kedaruratan kepeda pesien.

TRIAGE DALAM KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

Yaitu skenario pertolongan yang akan di berikan sesudah fase keadaan pasien. Pasien-pasien yang terancam hidupnya harus diberi prioritas utama. Triage dalam keperawatan gawat derurat di gunakan untuk mengklasifikasian keparahan penyakit atau cidera dan menetapkan prioritas kebutuhan penggunaan petugas perawatan kesehatan yang efisien dan sumber-sumbernya. Read the rest of this entry »





PENGARUH TEHNIK RELAKSASI PROGRESIF TERHADAP PEMENUHAN KEBUTUHAN ISTIRAHAT – TIDUR KLIEN DI RUANGAN VIP-B RSUD BIMA

23 12 2010

PENGARUH TEHNIK RELAKSASI PROGRESIF TERHADAP PEMENUHAN KEBUTUHAN ISTIRAHAT – TIDUR KLIEN DI RUANGAN VIP-B RUMAH SAKIT UMUM DAERAH  BIMA

INFLUENCE OF PROGRESSIVE RELAXATION TO ACCOMPLISHMENT OF REQUIREMENT OF REST-SLEEP CLIENTIN ROOM OF VIP-B  PUBLIC HOSPITAL DISTRICT BIMA

A. Haris AB., SST. MPH.       Muhtar, S.Kep.Ns.

Politeknik Kesehatan Kemenkes Mataram Program Studi Keperawatan Bima

 

 

ABSTRACT

Technique of practice of relaxation progressive as one of  technique of muscle relaxation have proven or there are satisfying result in therapy program to muscle stress capable to overcome sigh of Anxietas, insomnia, tired, muscle cramps, neck pain in bone and waist, high blood pressure, light phobia and stutter. The bearing between technique of relaxation and accomplishment of requirement from sleep and rest is very hand in glove because sleep and rest depended from muscle relaxation

This research type is Pra Eksperiment by using approach of One Group Pra Test – Post Test Design with population are all clients of fell trouble accomplishment of requirement of rest-sleep in room of VIP-B RSUD Bima. Intake of sample by purposive sampling with amount of sample counted 20 responden.  Instrument that the writer used is technique guidance of progressive relaxation, kuisioner and guidance of observation. Then, gathered the data tabulation in frequency distribution table as according to accurate sub variable and analyzed by using test of t-test.

The result of research show storey, level accomplishment of requirement of client sleep and rest before conducted by technique of relaxation progressive reside in category sleep less (100%) and after conducted by technique of relaxation progressive reside in  category sleep enough (60%) and good sleep (40%). Pursuant to result of the test of statistic t-test got by value of t-count equal to 11,481 with degree of freedom (df) 19 and level of significance 0,000. It is indicate that t-count > t-table (11,481 > 1,729). Therefore, Ho is refused and Ha is accepted. It means there is technique effective of progressive relaxation to accomplishment of requirement of rest-sleep client in room of VIP-B RSUD Bima.

The conclusion of this research there is technique effective of progressive relaxation to accomplishment of requirement of rest-sleep client in room of VIP-B RSUD Bima.

Key word : Technique of progressive relaxation,  Requirement of Sleep-Rest. Read the rest of this entry »





GAMBARAN PENATALAKSANAAN PASIEN PASCAOPERATIF DENGAN ANESTESI UMUM DI RUANG PEMULIHAN INSTALASI BEDAH SENTRAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BIMA

23 12 2010

GAMBARAN PENATALAKSANAAN PASIEN PASCAOPERATIF DENGAN ANESTESI UMUM DI RUANG PEMULIHAN INSTALASI BEDAH SENTRAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BIMA

Description of MANAGEMENT  PostOperative patients with   General ANESTHESIA  At Recovery Room Central operationing theatre distric general hospital at Bima

Jubair, SKM.M.Kes,    A.Haris, SST.M.Ph,   Muhtar, S.Kep.Ns.

Program Studi Keperawatan Bima Politeknik Kesehatan Depkes Mataram

ABSTRAK

 

Latar belakang: Ruang pemulihan mempunyai angka cidera dan tuntutan pengadilan yang tinggi di rumah sakit. Resiko ini berkurang jika perawatan pascaoperatif di ruang pemulihan dilakukan secara optimal. Instalasi Bedah Sentral RSUD setiap hari rata – rata melayani 2-3 pasien operasi dengan anestesi umum. Association of Operating Room Nursing (AORN), menyatakan bahwa tanggung jawab perawat perioperatif tidak berakhir dengan penutupan luka dan pemasangan balutan. Langkah-langkah tindakan keamanan dan tindakan keperawatan harus berlangsubg terus menerus selama tahap pascaoperatif.

 

Tujuan : Mendapatkan gambaran tentang penatalaksanaan pasien pascaoperatif dengan anestesi umum dan mengetahui rata–rata lama perawatan diruang pemulihan Instalasi Bedah Sentral RSUD Bima.

 

Metode :Deskriptif dengan pendekatan observasional crossectional.Pengambilan sampel dengan purposive sampling.Instrumen berupa lembar observasi berdasarkan prosedur tetap RSUD Bima, disesuaikan dengan standar American Society of Post Anesthesia Nurses,dan Association of Operating Room Nursing.

 

Hasil : Penatalaksanaan pasien pascaoperatif meliputi serah teriam pasien dengan petugas kamar operasi 81,6% baik,pengelolaan jalan nafas 68,7% baik, Pengelolaan keamanan 60,5% baik, Pengelolaan cairan 73,5% kurang, Pengelolaan hipotermia 46,2% baik, Penilaian aldrete skor  83,6% baik, Pendokumentasian  61,9% cukup, serah terima dengan petugas ruang perawatan 83,6% baik.

 

Kesimpulan : Penatalaksanaan pasien pascaoperatif 51% baik,46,3% cukup, 2,7% kurang .Rata–rata lama perawatan di ruang pemulihan  35,9 menit.

 

Kata Kunci : Penatalaksanaan Pascaoperasi, Anestesi umum, Ruang pemulihan Read the rest of this entry »





KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

5 11 2010

Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam dan Basa

 

Pendahuluan

Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu exterior) dan sel-selnya pun hidup dalam milieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang dan menjalankan tugasnya.

Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara subtansi-subtansi yang ada di milieu interior.

Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.

Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimi dalam cairan tubuh. Read the rest of this entry »





PROFESIONALISME PERAWAT DI ERA PASAR GLOBAL

20 05 2010

Era reformasi telah membawa perubahan nyata pada segala sisi kehidupan masyarakat Indonesia, baik secara pribadi, kelompok bahkan pada tataran organisasi; politik, birokrasi pemerintah maupun swasta, menuju kearah keadaan yang lebi baik.
Di Bidang Kesehatan misalnya adanya tuntutan reformasi seperi isu desentralisasi bidang kesehatan menjadi isu-isu menarik yang perlu dibahas dan dikaji lebih jauh lagi terkait dengan tuntutan kebutuhan masyarakat akan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih berkualitas. Hal ini membutuhkan pemahaman yang nyata bagi tenaga kesehatan akan pendekatan pelayanannya kepada masyarakat dengan paradigma SEHAT, dimana titik sentralnya adalah MANUSIA.
Oleh karena itu pada era kesejagatan ini PERAWAT selaku tenaga Keperawatan hendaknya mempersiapkan diri secara baik dan menyeluruh, mencakup seluruh aspek keadaan dan kejadian atau peristiwa yang terjadi saat sekarang dan masa yang akan datang.
Keperawatan sebagai pelayanan / asuhan profesional bersifat humanistik dengan pendekatan holistik dilakukan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berorientasi pada kebutuhan objektif klian, mengacu pada standar profesional keperawatan dan menggunakan etika keperawatan sebagai tuntutan utama. Read the rest of this entry »