GAMBARAN PENATALAKSANAAN PASIEN PASCAOPERATIF DENGAN ANESTESI UMUM DI RUANG PEMULIHAN INSTALASI BEDAH SENTRAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BIMA

23 12 2010

GAMBARAN PENATALAKSANAAN PASIEN PASCAOPERATIF DENGAN ANESTESI UMUM DI RUANG PEMULIHAN INSTALASI BEDAH SENTRAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BIMA

Description of MANAGEMENT  PostOperative patients with   General ANESTHESIA  At Recovery Room Central operationing theatre distric general hospital at Bima

Jubair, SKM.M.Kes,    A.Haris, SST.M.Ph,   Muhtar, S.Kep.Ns.

Program Studi Keperawatan Bima Politeknik Kesehatan Depkes Mataram

ABSTRAK

 

Latar belakang: Ruang pemulihan mempunyai angka cidera dan tuntutan pengadilan yang tinggi di rumah sakit. Resiko ini berkurang jika perawatan pascaoperatif di ruang pemulihan dilakukan secara optimal. Instalasi Bedah Sentral RSUD setiap hari rata – rata melayani 2-3 pasien operasi dengan anestesi umum. Association of Operating Room Nursing (AORN), menyatakan bahwa tanggung jawab perawat perioperatif tidak berakhir dengan penutupan luka dan pemasangan balutan. Langkah-langkah tindakan keamanan dan tindakan keperawatan harus berlangsubg terus menerus selama tahap pascaoperatif.

 

Tujuan : Mendapatkan gambaran tentang penatalaksanaan pasien pascaoperatif dengan anestesi umum dan mengetahui rata–rata lama perawatan diruang pemulihan Instalasi Bedah Sentral RSUD Bima.

 

Metode :Deskriptif dengan pendekatan observasional crossectional.Pengambilan sampel dengan purposive sampling.Instrumen berupa lembar observasi berdasarkan prosedur tetap RSUD Bima, disesuaikan dengan standar American Society of Post Anesthesia Nurses,dan Association of Operating Room Nursing.

 

Hasil : Penatalaksanaan pasien pascaoperatif meliputi serah teriam pasien dengan petugas kamar operasi 81,6% baik,pengelolaan jalan nafas 68,7% baik, Pengelolaan keamanan 60,5% baik, Pengelolaan cairan 73,5% kurang, Pengelolaan hipotermia 46,2% baik, Penilaian aldrete skor  83,6% baik, Pendokumentasian  61,9% cukup, serah terima dengan petugas ruang perawatan 83,6% baik.

 

Kesimpulan : Penatalaksanaan pasien pascaoperatif 51% baik,46,3% cukup, 2,7% kurang .Rata–rata lama perawatan di ruang pemulihan  35,9 menit.

 

Kata Kunci : Penatalaksanaan Pascaoperasi, Anestesi umum, Ruang pemulihan

PENDAHULUAN

Kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran, menyebabkan perubahan indikasi pembedahan. Saat ini pembedahan dilakukan dengan berbagai macam indikasi diantaranya untuk diagnostik, kuratif, rekonstruktif bahkan untuk tujuan paliatif. Pembedahan juga dilakukan sesuai dengan tingkat urgensinya seperti kedaruratan dan elektif. Pembedahan adalah peristiwa kompleks yang menegangkan yang dilakukan dikamar operasi dan memerlukan perawatan pascaoperatif di rumah sakit (Brunner and Suddarth, 2002). Kemajuan teknologi juga telah mengubah prosedur pembedahan menjadi lebih kompleks dan perkembangan alat pemantauan hemodinamik menjadi sangat sensitif, sehingga meminimalkan komplikasi, akan tetapi peran sentuhan manusia masih sangat diperlukan dalam perawatan pascaoperatif (Brunner and Suddarth, 2002).

Fase pascaoperatif bisa terjadi kegawatan, sehingga perlu pengamatan serius dan harus mendapat bantuan fisik dan psikologis sampai pengaruh anestesi berkurang dan kondisi umum stabil. Perawat di ruang pemulihan bertanggungjawab memberikan perawatan pada pasien pascaoperatif(Long,1996). Peranan perawat diruang pemulihan sangat diperlukan dalam memberikan bantuan keperawatan dan mengontrol komplikasi dan kembalinya fungsi-fungsi tubuh yang optimal (Bagian anestesiologi FKUI,1991). Hal ini mengharuskan perawat  mempunyai pengetahuan yang memadai dalam semua aspek perawatan perioperatif (Brunner and Suddarth, 2002).

Association of Operating Room Nursing (AORN), menyatakan bahwa tanggung jawab perawat perioperatif tidak berakhir dengan penutupan luka dan pemasangan balutan. Langkah-langkah tindakan keamanan dan tindakan keperawatan harus berlangsung terus menerus selama tahap pascaoperatif (Rothrock,1990).

Ruang pemulihan mempunyai angka cidera dan tuntutan pengadilan yang tinggi dibanding area lain dirumah sakit. Periode pemulihan pasca anestesi sangat tergantung pada perawatan pascaoperatif di ruang pemulihan, resiko ini berkurang jika perawatan pascaoperatif di ruang pemulihan dilakukan secara optimal sampai pasien sadar sepenuhnya. Penatalaksanaan pascaoperatif dan pemulihan dari anestesi sangat memerlukan pengetahuan dan ketrampilan keperawatan yang profesional (Rothrock,1990).

Instalasi Bedah Sentral Rumah sakit Umum Daerah Bima, selama tahun 2008 melayani pembedahan sebanyak 1020 pasien, rata-rata 85 pasien setiap bulan. Tindakan pembedahan yang menggunakan anestesi lokal sebanyak 125 pasien (12,25 %), anestesi regional sebanyak 7 pasien (6,7 %), dan operasi dengan anestesi umum 888 pasien (87,04%). Dalam satu bulan rata – rata 74 pasien atau 2-3 pasien setiap hari yang dilakukan operasi dengan anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Bima (Rekam Medis RSUD Bima, 2008).

Survey yang telah dilakukan pada tanggal 26 Juni dan 27 Juni 2009 di ruang pemulihan Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Bima, didapatkan pasien pascaoperatif yang dirawat di ruang pemulihan sebanyak 2-3 pasien. Dimana semua pasien tidak dilakukan observasi tanda-tanda vital, dan tidak dilakukan penilaian dengan Aldrete score, sebelum pasien dipindahkan ke ruang perawatan.

Semua pasien yang dirawat di ruang pemulihan sebelum dipindah ke ruang perawatan, harus mendapat tindakan dan penilaian yang tepat, tentang tingkat kesadaran, respirasi, sirkulasi, keseimbangan cairan, dan mengontrol perdarahan, agar tidak menyebabkan komplikasi yang bisa berakibat kematian pada pasien, sehingga perlu diperhatikan penatalaksanaan pasien pascaoperatif.

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka penulis berusaha meneliti tentang gambaran penatalaksanaan pasien pascaoperatif yang dilakukan diruang pemulihan  di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Bima.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang penatalaksanaan pasien pascaoperatif di ruang pemulihan Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Bima. Sehingga hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan institusi rumah sakit, institusi pendidikan keperawatan serta bagi pengembangan profesi keperawatan.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan observasional crossectional. Penelitian ini dilaksanakan di ruang pemulihan Instalasi Bedah Sentral RSUD Bima.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pascaoperatif dengan anestesi umum yang dirawat di ruang pemulihan Instalasi Bedah Sentral RSUD Bima. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu pasien pascaoperatif dengan anestesi umum yang dirawat di ruang pemulihan Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Bima selama periode waktu tanggal 1 Nopember 2009 sampai dengan 10 Januari 2010, dengan kriteria:    1) pasien pascaoperasi jenis pembedahan sedang atau besar, 2)usia diatas 15 tahun. Kriteria eksklusi 1) Pasien pelayanan bedah sehari, 2) Anestesi umum digabung anestesi regional, 3) Menjalani perawatan lanjut di ICU.

Penelitian ini terdiri atas variabel tunggal yaitu penatalaksanaan pasien pascaoperatif dengan anestesi umum di ruang pemulihan Instalasi Bedah Sentral RSUD Bima.

Instrumen yang digunakan untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan pasien pascaoperatif dengan anestesi umum di ruang pemulihan adalah lembar observasi yang dibuat berdasar prosedur tetap keperawatan kamar operasi dan anestesi tahun 2004 yang dimodifikasi dengan standar keperawatan perioperatif dari Journal Association of Operating Room Nursing (AORN) tahun 1997 dan American Society of Post Anesthesia Nurses (ASPAN) tahun 1987 dan Standar Perawatan Pascaoperatif menurut Brunner dan Suddart tahun 2002. Instrumen untuk menentukan lamanya pasien menjalani perawatan di ruang pemulihan menggunakan jam, yang sudah dikalibrasi yang ada di ruang pemulihan.

Penatalaksanaan pasien pascaoperatif di ruang pemulihan ada delapan tahap yang diobservasi, masing-masing tahap mempunyai kriteria kurang, cukup dan baik, ditampilkan dalam distribusi frekuensi, kemudian menggunakan uji proporsi (P).

Untuk menentukan lamanya perawatan pasien pascaoperatif di ruang pemulihan menggunakan kriteria cepat jika lama perawatan ≤ 60 menit,  lama jika > 60 menit, yang ditampilkan dalam distribusi frekuensi dan uji proporsi, kemudian dihitung rata-rata lama perawatan di ruang pemulihan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.   Karakteristik Responden

Tabel  1  :      Distribusi Frekuensi Responden Penatalaksanaan pascaoperatif di ruang Pemulihan IBS RSUD Bima, Nopember 2009-Januari 2010.  n : 147

No   Karakteristik                   Frekuensi                           Persentase (%)

  1. Jenis kelamin

Laki-laki                              71                                         48,3

Perempuan                          76                                         51,7

  1. Usia

12 – 18 tahun                       14                                         9,5

19 – 40 tahun                       71                                         48,3

41 – 65 tahun                       62                                         42,2

  1. Jenis Pembedahan

Sedang                                  75                                         51,0

Besar                                    72                                         49,0

Sumber: Data primer, Agustus 2009-Januari2010.

2.   Penatalaksanaan Pasien Pascaoperatif

Penatalaksanaan pasien pascaoperatif di ruang pemulihan dalam penelitian ini terdiri atas delapan tindakan yang diobservasi, selengkapnya lihat tabel 2 berikut :

Tabel 4.2 :     Frekuensi Tindakan Penatalaksanaan yang dilakukan di Ruang Pemulihan IBS RSUD Bima, Nopember 2009-Januari 2010.  n : 147

Jenis tindakan                         Kurang                   Cukup                    Baik

f          %                f           %               f           %

Serah terima  1                      0          0                27        18,4           120      81,6

Pengelolaan jalan nafas          6          4,1             40        27,2           101      68,7

Pengelolaan keamanan           4          2,8             54        36,7           89        60,5

Pengelolaan cairan                 108      73,5           26        17,7           13        8,8

Pengelolaan hipotermia          36        24,5           43        29,3           68        46,2

Menilai Aldrete                      3          2,1             21        14,3           123      83,6

Dokumentasi                         3          2,0             91        61,9           53        36,1

Serah terima 2                       2          1,4             22        15,0           123      83,6

Sumber: Data primer, Agustus 2009-Januari2010.

Keterangan :

Serah terima 1 :Serah terima dengan petugas ruang operasi

Serah terima 2 :Serah terima dengan petugas ruang perawatan

a.   Serah terima antara petugas kamar operasi dengan petugas ruang pemulihan

Berdasarkan tabel 2 menunjukan bahwa  81,6% pasien pascaoperatif dilakukan serah terima dengan baik. Hal ini sesuai dengan kriteria yang dianjurkan oleh American Society of Post Anesthesia Nurses (1987) yang mengatakan bahwa  setelah pasien diterima di ruang pemulihan, prosedur serah terima harus dilakukan secara verbal dan diberikan secara langsung kepada petugas ruang pemulihan. Hal ini sesuai dengan prosedur tetap keperawatan pasien pascaoperatif  yang disusun oleh  RSUD Bima tahun 2004, tetapi belum ada pedoman tertulis tentang serah terima pasien di ruang pemulihan yang disusun oleh RSUD Bima, sehingga keadaan ini memungkinan adanya kelalaian, dan belum ada legalitas tindakan yang dilakukan selama serah terima.

Menurut Brunner and Suddarth (2002) bahwa dalam serah terima pasien pascaoperatif meliputi diagnosis medis dan jenis pembedahan, usia,kondisi umum,  tanda -tanda vital, kepatenan jalan nafas, obat-obat yang digunakan, masalah yang terjadi selama pembedahan, cairan yang diberikan, jumlah perdarahan, informasi tentang dokter bedah dan anestesi.

b.   Pengelolaan Jalan nafas

Dari 147 responden  6 responden (4,1%) kurang dalam  pengelolaan jalan nafas  40 responden (27,2%) dinyatakan cukup dan 101 respondan (68,7%) dilakukan pengelolaan jalan nafas dengan baik.

Menurut Brunner and Suddarth (2002) bahwa  kepatenan jalan nafas dan fungsi pernafasan  selalu dievaluasi pertama kali setiap 15 menit diikuti dengan sistem kardiovaskuler. Tujuan utama tindakan ini adalah mempertahankan ventilasi pulmonal dan mencegah hipoksemia dan hiperkapnea.

Prosedur pengelolaan jalan nafas yang dilakukan di ruang pemulihan RSUD Bima sama dengan prosedur yang disarankan oleh  American Society of Post Anesthesia Nurses (1987) dan Brunner and Suddarth (2002).

c.   Pengelolaan keamanan

Empat responden (2,8%) tidak dilakukan tindakan pengamanan,       54 responden (36,7%) dilakukan dengan kriteria cukup  dan  89 responden (60,5%) dilakukan tindakan keamanan dengan baik.

Pengelolaan keamanan dilakukan dengan  baik sebanyak 60,5% responden, keadaan  sesuai dengan prosedur tetap yang dibuat RSUD Bima. Brunner and Suddarth (2002) mengatakan setiap pasien pascaoperatif  diamankan dengan pengikat untuk menahan selimut dan merestrain pasien, pagar sisi tempat tidur harus terpasang untuk menjaga agar pasien tidak terjatuh.

Tindakan yang dilakukan di ruang pemulihan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut,adalah melakukan tindakan pengamanan pasien diantaranya memasang pengaman pada tempat tidur (Journal AORN Februari 1997).

Pasien yang tidak dilakukan pengamanan merupakan   kelalaian petugas ruang pemulihan, karena dalam  prosedur tetap  mengatakan bahwa setiap pasien pascaoperatif harus dipasang strain pada tempat tidur.

d.   Pengelolaan cairan

Berdasarkan hasil penelitian 73,5% pasien pascaoperatif kurang dalam pengelolaan cairan artinya kebutuhan cairan pascaopertif di ruang pemulihan tidak diperhatikan.

Hal ini terjadi karena  tidak adanya prosedur tetap dalam penatalaksanaan pasien pascaopertif di ruang pemulihan RSUD Bima, dan tidak adanya lembar monitor cairan selama perawatan di ruang pemulihan.

Keadaan ini tidak sesuai dengan pedoman perawatan pasacaoperatif di ruang pemulihan yang disarankan American Society of Post Anesthesia Nurses (1987) yang mengatakan masukan dan keluaran cairan perlu diukur secara teliti di ruang pemulihan. Cairan intravena perlu diatur, dan dicatat jumlah cairan yang masuk. Keluaran cairan ditentukan dengan pemantauan melalui urin, drain, dan jumlah perdarahan (Rothrock,J.,C.,1999).

Pemantauan cairan pascaopertif di ruang pemulihan sangat diperlukan karena bila pasien bisa mengalami hipovolemia dan hipervolemia. Hipovolemia terjadi karena perdarahan dan penguapan tubuh bertambah karena pemberian gas anestesi yang kering dan luka operasi yang lebar menambah penguapan tubuh meningkat sehingga kehilangan cairan lebih banyak.Hipervolemia pada pasien pascaoperatif disebabkan pemberian cairan intravena melebihi 30% dari yang seharusnya, kesalahan dalam pemantauan hemodinamik (Thaib M.,R.,1989).

e.   Pengelolaan hipotermia

Berdasarkan hasil penelitian tindakan pengelolaan hipotermia 36 responden (24,5%) dinyatakan kurang, 43 responden (29,3%) dinyatakan sedang dan  68 responden  (46,2%) dilakukan dengan baik.

Prosedur tetap tentang pengelolaan hipotermia di ruang pemulihan yang belum dibuat RSUD Bima, dan tidak semua pasien mengalami hopotermia sehingga pengelolaan ini sering tidak mendapat perhatian.

Brunner and Suddarth (2002) berpendapat bahwa Pasien yang mengalami anestesi mudah menggigil, selain itu pasien  menjalani pemejanan lama terhadap dingin dalam ruang operasi dan menerima cairan intravena yang cukup banyak sehingga harus dipantau terhadap kejadian hipotermia 24 jam pertama pascaoperatif. Association of Operating Room Nursing (1997) menyarankan ruangan dipertahankan pada suhu yang nyaman, dan selimut disediakan untuk mencegah menggigil (Rothrock,J.,C.,1999).

f.    Menilai dengan Aldrete score

Untuk penilaian pasien layak pindah dari ruang pemulihan dengan aldrete skor, 3 responden (2,1%)  dinyatakan kurang, 21 responden (14,3%) dinyatakan  sedang dan 123 responden (83,6%) dilakukan dengan baik.

Penilaian pasien dengan Aldrete skor hampir semua dilakukan dengan baik. Keadaan ini sesuai dengan kriteria dan pedoman penilaian unit perawatan pascaoperatif yang disarankan oleh Brunner and Suddarth (2002). Keadaan ini didukung oleh adanya   prosedur tetap RSUD Bima tentang penilaian kesadaran dengan Aldrete skor.

Hal ini merupakan suatu kelalaian yang perlu mendapat perhatian karena menurut Joint Commisionon Accreditation of healthcare Organization telah mengemukakan penafsiran standar anestesi mengenai pemindahan pasien dari ruang pemulihan  adalah tanggungjawab yang merawat pasien8. Issues Interpretation on anesthesia Standards 1988 menyatakan  isi standar tersebut dipenuhi dengan dua cara yaitu menulis dan menandatangani instruksi pemindahan apakah pasien siap dipindahkan atau belum (Rothrock,J.,C.,1999)..

g.   Serah Terima dengan petugas ruang perawatan

Serah terima antara perawat ruang pemulihan dengan perawat ruang perawatan 2 responden (1,4%) dinyatakan kurang, 22 responden (15%) mempunyai nilai cukup dan  123 responden  (83,6%) dilakukan dengan baik.

Pelaksanaan serah terima secara keseluruhan  baik, akan tetapi belum ada pedoman serah terah terima secara tertulis dari RSUD Bima, sehingga tidak mempunyai legalitas, dan belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman serah terima yang disarankan oleh Brunner and Suddarth (2002) dan  American Society of Post Anesthesia Nurses (1987).

Faktor keamanan harus dipertimbangkan dalam memindahkan pasien dari ruang pemulihan.Sebelum dipindahkan. Laporan yang perlu disampaikan meliputi prosedur operasi yang dilakukan,kondisi umum pasien,kejadian pascaanestesi, informasi tentang balutan, drain, alat pemantauan, obat yang diberikan, cairan yang masuk dan keluar dan informasi lain yang ditentukan oleh protokol institusi, informasi kepada keluarga tentang kondisi pasien (Rothrock,J.,C.,1999).

h.   Dokumentasi

Berdasarkan hasil penelitian  hanya 53 responden (36,1%) dilakukan dengan baik, hal ini disebabkan karena catatan lembar pendokumentasian di ruang pemulihan tidak sesuai dengan yang disarankan oleh American Society of Post Anesthesia Nurses (ASPAN).

Catatan  pendokumentasian di ruang pemulihan RSUD Bima tidak mencantumkan tentang keadaan dan pengelolaan cairan pasien pascaoperatif, tidak ada data tentang keadaan hipotermia. Pendokumentasian laporan serah terima dari ruang pemulihan ke petugas ruang perawatan belum semua dilakukan oleh petugas.

Secara keseluruhan penatalaksanaan pasien pascaoperatif di ruang pemulihan adalah sebagai berikut :

Tabel   3  :     Distribusi Frekuensi penatalaksanaan pasien pascaoperatif Ruang Pemulihan IBS RSUD Bima, Nopember 2009-Januari 2010.  n : 147

Kriteria                                             frekuensi                             %

Kurang                                           4                                        2,7

Cukup                                            68                                      46,3

Baik                                               75                                      51,0

Total                                              147                                    100,0

Sumber: Data primer, Nopember 2009-Januari 2010.

3.   Lama Waktu Perawatan Di Ruang Pemulihan

Dari 147 responden didapatkan data tentang lamanya perawatan di ruang pemulihan adalah sebagai berikut :

Tabel  4  :      Distribusi Frekuensi lama perawatan di ruang pemulihan IBS RSUD Bima, Nopember 2009-Januari 2010.  n : 147

Lama Perawatan                                Frekuensi                     Persentase (%)

15-30  menit                                       68                                46.25

31-45  menit                                       23                                15,7

46-60  menit                                       56                                38,1

61-75  menit                                       0                                  0

76-90  menit                                       0                                  0

91-105 menit                                      0                                  0

106-120 menit                                     0                                  0

Total                                        147                              100

Sumber : Data primer, Nopember 2009-Januari 2010.

Tabel 4 menunjukan bahwa lama perawatan dengan interval 15 sampai 30 menit merupakan frekuensi paling banyak yaitu 68 responden (46,25%), Lama perawatan pasien pascaoperatif di ruang pemulihan ≤60 menit sebanyak 147 responden (100%). Rata-rata lama perawatan di ruang pemulihan adalah 35,9 menit.

Berdasarkan hasil penelitian, lama perawatan pasien pascaoperatif di ruang pemulihan ≤60 menit sebanyak 147 responden (100%), dengan rata-rata lama perawatan di ruang pemulihan adalah 35,9 menit. Menurut Direktorat Jendral Pelayanan Medik dan Keperawatan Departemen Kesehatan tahun 2002 bahwa  ketergantungan pasien di ruang pemulihan adalah 60 menit, sehingga lama perawatan di ruang pemulihan RSUD Bima lebih cepat dari standar yang telah dibuat oleh Direktorat Jendral Pelayanan Medik dan Keperawatan Departemen Kesehatan tahun 2002.

Pada 56 responden (38,1%) lama perawatan diruang pemulihan pada rentang yang lebih lama yaitu 46-60 menit. Berdasarkan pengamatan di ruang pemulihan sebab dari lamanya perawatan di ruang pemulihan pada responden tersebut adalah karena terlambatnya petugas dari ruang perawatan mengambil pasien pascaoperatif diruang pemulihan 3 responden (12%) akibat efek samping dan komplikasi anestesi umum.

Berdasarkan  wawancara tidak struktur dengan petugas ruang perawatan saat serah terima pasien didapatkan bahwa keterlambatan pengambilan pasien dikarenakan ada hambatan berupa kurangnya tenaga, dan waktu pengambilan pasien bersamaan dengan pertukaran jaga pagi dan jaga sore.

Beberapa faktor ikut menentukan lamanya pasien di ruang pemulihan. Dalam penelitian ini tidak meneliti fator-faktor yang mempengaruhi lamanya perawatan di ruang pemulihan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

1.   Gambaran penatalaksanaan pasien pascaoperatif meliputi serah terima dengan petugas kamar operasi 81,6% baik, pengelolaan jalan nafas 68,7% baik, pengelolaan keamanan 60,5% baik, pengelolaan cairan 73,5% kurang, pengelolaan hipotermia 46,2% baik, penilaian dengan Aldrete 83,6% baik, pendokumentasian 61,9% cukup, serah terima dengan petugas ruang perawatan 83,6% baik. Secara keseluruhan penatalaksanaan pascaoperatif adalah 75 responden dilakukan dengan baik (51%), 68 responden (46,3%) dengan kriteria cukup, dan 4 responden (2,7%) dengan kriteria kurang.

2.   Rata-rata lama perawatan di ruang pemulihan adalah 35,9 menit. Lama perawatan pasien pascaoperatif di ruang pemulihan 100% ≤60 menit.

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas, maka peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut :

1.   Perlu peningkatan kerjasama yang baik dalam penatalaksanaan pasien pascaoperatif di ruang pemulihan antara petugas kamar operasi, petugas ruang pemulihan dan petugas ruang perawatan.

2.   Penambahan prosedur tetap untuk pengelolaan cairan, pengelolaan hipotermia, dan serah terima sesuai dengan prosedur yang sudah direkomendasikan sehingga ada standarisasi dan legalitas dalam melakukan tindakan di ruang pemulihan.

3.   Peningkatan dalam pengelolaan cairan dan hipotermia sesuai dengan rekomendasi dari American Society of Post Anesthesia Nurses (ASPAN).

4.   Perbaikan dalam catatan di ruang pemulihan terutama dalam hal pengelolaan cairan dan hipotermia dan pengelolaan keamanan untuk menghindari kelalaian dalam penatalaksanaan pasien pascaoperatif di ruang pemulihan.

5.   Dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat  kualitas penatalaksanaan pasien diruang pemulihan dan mencari faktor-faktor yang menentukan lama perawatan pasien pascaoperatif di ruang pemulihan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto S, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Rineka Cipta,Jakarta

Brunner and Suddarth, 2002,Keperawatan Medikal Bedah,EGC,Jakarta.

Direktorat Pelayanan Keperawatan,Direktorat Jendral Pelayanan Medik,2002, Standar Keperawatan Rumah Sakit, Depkes, jakarta

Drajat MT,1991,Anestesiologi, Aksara Medisina, Salemba, Jakarta.

Long, B.,C.,1996, Perawatan Medikal Bedah, Edisi II, Yayasan IAPK, Padjajaran, Bandung

Journal AORN, 26 Februari 2005, Inspiring Tomorrow Perioperative Nurses, www.studenkitptt.pdf.com

Journal AORN Februari 1997, Patient outcomes:standards of Perioperative Care,www.findarticles.com/p/articles.

Rothrock,J.,C.,1999, Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif, EGC, Jakarta.

Thaib M.,R.,1989, Anestesiologi, Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI, Jakarta


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: